senin pagi di al-abidin
Bulan Ramadhan yang akan dimulai kemarin (11/8), siswa-siswi Sekolah Dasar Islam Internasional (SDII) Al Abidin membuat kartu ucapan permohonan maaf kepada orang tua mereka.
Siswa kelas 1 dan 2 dikumpulkan di lantai 2 dan dipandu oleh Wakil Kepala Sekolah, Farida Nuraini, S.Sos.
materi selengkanya silahkan di download ok materi blog di SMPII al-abidin gambar lain bisa dilihat disini
mereka diberikan kartu bergambar kemudian tugas mereka tinggallah mewarnai dan membubuhkan tulisan berisi permohonan maaf kepada orang tua mereka. Sedangkan siswa kelas 3-6 dikumpulkan di lantai 1 dengan dipandu oleh Kepala SDII Al Abidin, Shodiqin, S.Pd. Berbeda dengan siswa kelas 1 dan 2, mereka membuat sendiri kartu tersebut sesuai dengan kreatifitas mereka. Di sela-sela para siswa membuat kartu ucapan, guru pemandu menyampaikan pembekalan dan fiqih sederhana sebagai pengantar memasuki bulan Ramadhan. Sebelum acara membuat kartu ini, siswa melakukan pawai keliling kampung sambil menyebarkan Jadwal Imsakiyah kepada masyarakat di sekitar sekolah.
Mengingat filosofi padusan yang sudah mulai luntur, Humas SDII Al Abidin, Khanifudin, mengatakan bahwa siswa lebih diarahkan untuk meminta maaf secara nyata terutama kepada orang tuanya. “Anak usia SD tentunya paling dekat dengan orang tuanya, kesalahan dan dosa yang paling banyak juga kepada orang tua. Maka dari itu, kami memilih permohonan maaf yang tertuang dalam kartu ditujukan untuk orang tua,” jelasnya. Ia menambahkan, siswa sudah diarahkan supaya kartu-kartu yang sudah dibuat, sepulang sekolah diberikan kepada orang tua mereka. “Memasuki bulan puasa, hati harus bersih. hal itu yang ingin kami tanamkan kepada siswa agar dapat memaknai arti puasa sejak dini,” lanjutnya.
Salah seorang siswa bernama Nadia Firdausi memngungkapkan bahwa isi kartu yang dibuatnya berisi permohonan maaf kepada kedua orang tuanya karena selama 12 tahun sudah banyak merepotkan. “Sebagai balasan, saya sangat ingin membahagiakan mereka dengan belajar lebih giat lagi agar menjadi orang sukses yang nantinya bisa menghajikan papa dan mama. Saya benar-benar berjanji pada diri saya sendiri,” katanya penuh semangat. Ia menambahkan, sepulang nanti akan memberikan kartu yang dibuatnya kepada ibunya saja. “Nanti biar mama yang memberitahu kepada papa karena saya malu kalau langsung memberikan sendiri kepada papa,” lanjutnya.
Siswa kelas 6 yang bercita-cita menjadi pemilik rumah sakit, direktur bank, dan duta besar ini mengungkapkan bahwa ia selalu bahagia apabila sudah memasuki bulan Ramadhan. “Saya sudah mulai puasa penuh saat kelas 3 SD. Meskipun masih sering merasa kesulitan menahan hawa nafsu, bila mengingat bulan ini penuh hikmah, semangat saya langsung menyala lagi,” tambahnya. Ia juga memaknai puasa sebagai sarana untuk memperbaiki diri, mendekatkan diri kepada Tuhan, dan mengajarkan supaya lebih sabar. Sumber : niar/ timlo.net
Filed under: pelatihan | Leave a Comment
Tag:al abidin, blog
Rudi Susanto,



No Responses Yet to “senin pagi di al-abidin”